Salah Tujuan

Seorang manusia keluar dari rumahnya di pagi hari, dengan tekad bulat menujut tempat kerja. Menembus kemacetan jalan ibukota yang semrawut, yang terkadang “selak-selakan” dengan orang lain tanpa peduli orang itu, yang mungkin sedang berusaha teratur ditengah kemacetan. Selesai memarkir kendaraan tujuan selanjutnya adalah membeli sarapan, tanpa ada rasa ingin tahu apakah makanan itu halal dan thoyyib.

Di tempat kerja, dia bekerja sesuai “job description” dan mengikuti perintah atasan-atasannya. Ditengah meeting terdengarlah suara adzan dzuhur, tanpa terlalu mempedulikannya meeting tetap berjalan hingga waktu makan siang. Di tengah perjalanan menuju tempat makan siang dia berpapasan dengan jamaah sholat dzuhur, “Assalamualaikum, sudah sholat belum?”, jawabnya “Iya nanti, makan siang dulu”, melangkahlah dia menuju tempat makan siang yang menurutnya enak. Setelah makan siang dia melaksanakan sholat dzuhur lalu kembali ke tempat kerjanya.

Ditengah kesibukannya bekerja, seorang atasannya menghampiri, “Tolong kerjakan laporan ini, saya tunggu sampai sebelum pulang nanti”. Dengan tekunnya dia mengerjakan tugas yang baru saja diberikan, lalu terdengarlah sayup-sayup adzan ashar dari komputer temannya. “Yuk kita sholat ashar”, jawabnya “Duluan deh, tanggung nih sebelum pulang harus selesai”. Pukul 4.45 tugas itu selesai dengan baik, maka diberikan kepada atasannya. “Wah bagus sekali, saya suka kamu karena rajin”, lalu dia menuju mushola dan melakukan sholat ashar.

Dalam perjalanan pulang terdengar suara adzan maghrib di setiap masjid yang dilewatinya, tapi dia cuma melewatinya. Hari telah gelap ketika sampai di rumah, dia langsung melaksanakan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib langsung terdengar suara adzan isya, tanpa mengambil wudhu lagi dia langsung melanjutkan ke sholat isya.

Begitulah sekelebat kisah seorang manusia dalam rutinitasnya sehari-hari. Berusaha membangun karirnya yang terbaik, dengan cara berangkat tepat waktu dan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Citra dirinya sangatlah penting demi membangun karir yang bagus. Tapi sadarkah bahwa kesan yang seakan bagus itu ternyata buruk dalam pandangan Allah? Di perjalanan dia lebih membela dirinya daripada melakukan keadilan terhadap orang lain yang menggunakan jalan itu juga. Tanpa ada khawatir apakah Allah ridho, dia membeli makanan asalkan rasanya enak. Setiap panggilan untuk menghadap Allah selalu dikalahkan kepentingan lainnya. Dan dia menganggap remeh sholat yang dilakukan diakhir waktu.

Ketidaksadaran akan dirinya, bahwa hanya seorang hamba (budak) dari tuan yang sangat pengasih dan pemurah. Telah dicukupkan segala rizkinya, disehatkan badannya, dan dimudahkan urusannya, tetapi tidak mampu melihat itu semua. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah memberikan peringatan kepada orang-orang yang sibuk:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim

“Tuhan kalian berkata, Wahai anak Adam!, beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan” HR. Al-Hakim

Maka bagi orang-orang yang tenggelam dalam kesibukan dunia, bersiaplah untuk menerima kesibukan yang lebih banyak lagi, dan dengan hati yang penuh dengan kemiskinan. Dapat kita lihat orang-orang yang sibuk mengejar dunia seperti meminum air laut, semakin diminum semakin bertambah haus.

Agus Wahyono

copy paste dari milis tahajudcall
Karunia, 22/06/1430 (16/06/2009)

http://topengdigital.blogsome.com/2009/08/15/salah-tujuan/

Advertisements

3 thoughts on “Salah Tujuan

    • Hm, menurutku itu bukan hanya “dosa kecil”, yang itu berarti sholatnya msh blm sempurna. Jika seseorang telah sempurna sholatnya, maka sempurnalah segala amalan2nya.
      Nah sholat tepat waktu itu hanya salah satu penunjang sempurnanya sholat. Yang lain diantaranya: khusyu, mengerti bacaan2 sholat beserta menerapkannya dlm setiap tindakannya di kehidupan sehari2. Bukankah pada saat sholat kita mengucap:

      Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin…
      (KepadaMulah kami menyembah, dan kepadaMulah kami mohon pertolongan)
      Ihdina asshiraathal mustaqiim…
      (Tunjuki kami jalan golongan orang-orang yang lurus)
      Shiraath alladziina an’am ta ‘alayhim…
      (Jalan yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka)
      Ghayril maghduubi ‘alaihim, wa laddhaaaalliiin…
      (Bukan jalan orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan jalan orang-orang yang sesat)

      Jika ingin jalan yg diridhoi, maka kita bersungguh2 saat mengucapkan doa2 ini, bukan hanya dlm ucapan tp jg dlm perbuatan. Seringkali sbnarnya kita tahu mana yg salah dan benar (ttg beberapa dosa kecil itu), hanya lantas hati kita yg akhirnya memilih akan mengambil jalan yg mana.
      Kira2 begitu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s