Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?

Seringkali pada saat aku kehilangan sesuatu, yang dirasakan hanya “rasa kehilangan saja” yang ada. Efeknya pun lama. Padahal mungkin sebelumnya aku banyak menerima rezeki yang tak terhitung, yang cepet banget dilupakan.

Ada pengalaman yang bikin aku jadi sedikit mengerti hakikat sabar n bersyukur. Bulan puasa tahun lalu dompetku ilang, isi duit 100an ribu n lengkap ATM, KTM, SIM, KTP, dll. Jelas ajah aku kelimpungan. Marah, nyesel, sedih, sakit…campur aduk. Mo pergi2 ga tenang ga ada SIM, ga bisa ambil duit pke ATM, ga bisa pinjem di rental juga 😛 mumet abis deh. Aku masih berharap akan ada seseorang baikhati yang mengembalikan dompet beserta surat2nya. Ditunggu sehari, seminggu, lebih … sampe sempet kepikiran minta tolong “orang pinter” buat menemukan keberadaan si dompet tersayang. Tau dong, kalo di  jogja bertebaran orang-orang semacam itu. Aku juga punya beberapa teman yang kutahu dekat dengan “hal yang begituan”. Rasanya gatel, pengiinn banget sekedar nanyain, toh iseng2 berhadiah. Kalo ketemu sukur, kalopun engga ya udah, yang penting udah usaha…

Tapi engga. Aku mencoba sekuat tenaga nahan keinginanku. Aku ga pengin ibadahku ga diterima 40 hari, seperti yang dijelaskan di sini dan di sini. Dan sungguh, hal itu ga mudah. Sampe saat dimana aku bener2 bisa mengikhlaskannya. Ikhlas, lass…

Sekitar 1 bulan lebih setelahnya, ada kabar buruk lagi. Aku dapet telpon dr Brebes n dikabari bahwa sodaraku kemalingan di rumahnya di siang bolong saat ditinggal kerja. Yang dicuri sekotak perhiasan bernilai puluhan juta. Si maling rupanya sudah hapal kondisi rumah itu, jadi ngerti kapan saat2 sepi. Sodaraku kelimpungan. Jangankan dia, aku saja bisa turut merasakan kesedihannya.

Nha, pagi itu dia minta tolong padaku untuk menanyakan ke “orang pinter” yang dia kenal di Solo. Dilematis… Aku tentu saja ga pengin dianggap sebagai sodara yang tega karena ga mau dimintai tolong hal sepenting itu. Tapi di sisi lain, aku juga ga mau sodaraku n aku sendiri terjerumus ke lembah syirik karena meminta pertolongan kepada selain Allah. Akhirnya, dengan perasaan campur aduk kukatakan : maaf ga bisa…

Masih dengan perasaan ga karuan, sekitar 15 menit setelah itu, aku bersiap pergi ngantor, lagi pake kaos kaki hpku bunyi lagi, ada telpon masuk. Kali ini dari nomer tak dikenal. Aku angkat, ya Allah perasaanku membuncah. Dari seseorang yang katanya menemukan dompetku tergeletak di tempat sampah, masih berisi surat2 lengkap walaupun uangnya sudah ga ada. Subhanallah…aku langsung sujud syukur.

Setelah melalui perenungan nan panjang…..(huek, cuih.) Menurutku, Rezeki ada 3 macamnya:

  • Sesuatu yang baru kita dapatkan

ini jelas sekali. contohnya: menang hadiah, dikasih bonus tak terduga…

  • Sesuatu yang sudah kita punya sebelumnya

ini contohnya : tubuh yang sehat, keluarga yang baik, rumah yang nyaman..

  • Sesuatu milik kita dan kita tidak merasa kehilangan

contohnya : saat kita melihat temen yang kecopetan, opname di rumah sakit, or liat tipi orang yang rumahnya kebakaran.

“Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”  (Ar Rahman:13)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s